7 Hal Kuno Di Desa Sade Yang Masih Kental Dengan Budaya Sasak

Desa Sade Lombok

Desa Sade adalah perkampungan kecil di wilayah kabupaten Lombok Tengah bagian selatan yang di jadikan destinasi wisata.

Karena penduduknya masih menjaga keutuhan budaya dan pola hidup yang diwarisakan leleuhur mereka sejak 600 tahun yang lalu seperti bentuk bangunan, adat istiadat, tarian dan permainan musik, gaya berpakain dan penggunaan perlatan untuk keseharian mereka masih dalam kategori tradisional.

Apa yang dapat Anda nikmati ketika berwisata ke Desa Sade Lombok dan apa saja yang menarik bagi para traveler di desa yang dikenal masih primitive tersebut?

Akses Ke Sade

Alamat Desa Sade ini di Desa Rambitan, kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Akses menuju desa ini cukup mudah, karena terletak sekitar 8 km dari Bandara International Lombok atau  sekitar 20 menit perjalanan, desa ini memiliki rute yang sama dengan Pantai Seger dan juga Tanjung Aan.

Biasanya wisatawan mengunjungi 3 tempat ini dengan bersamaan dalam sebuah paket wisata lombok yang di sebut paket sasak tour.

Yang merupakan gabungan Antara wisata mengenal budaya Lombok dan keindahan alam di sekitar Lombok Tengah bagian selatan.

7 Keunikan Desa Sade

1. Penduduk dan Kearifan Lokal

Desa seluas 5,5 Hektar ini, memiliki  rumah tradisional sejumlah 150 dan setiap rumah terdiri dari satu kepala keluarga, dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang.

Semuanya masih merupakan satu keturunan, karena masyarakatnya melakukan perkawinan antar saudara dan bagi mereka pernikahan seperti ini mudah dan cukup murah, dibandingkan menikah dengan perempuan dari desa lain dan harus mengeluarkan beberapa ekor kerbau.

2. Bangunan

Lumbung Pare

Setiap Bangunan di desa ini seperti masjid, rumah, lumbung padi dan tempat pertemuan umum memiliki ciri khas arsitektur Suku Sasak dimana dindingnya menggunakan pagar anyaman dari bambu dan tiang terbuat dari kayu, dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering.

Keistimewaan dari bangunan yang di desain seperti ini adalah akan menyejukkan di saat cuaca terik dan terasa hangat ketika malam hari.

Salah satu keunikan dari rumah yang ada adalah cara perawatannya.

Lantainya terbuat dari tanah liat yang di campur dengan sedikit sekam padi dan setiap sekali dalam seminggu atau pada waktu-waktu tertentu seperti sebelum di mualainya upacara adat lantai rumah digosok dengan kotoran kerbau dicampur sedikit air, kemudian setelah kering disapu dan digosok dengan batu.

Penggunaan kotoran kerbau ini berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu membuat lantai terasa halus dan lebih kuat.

Masyarakat setempat percaya bahwa kotoran kerbau tersebut dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis yang ditujukan pada penghuni rumah.

Karena desa ini berada di gundukan perbukitan tanah liat jarak antar bangunan sangat rapat, tersusun rapi keatas dan masing-masing bangunan dihubungkan dengan jalan setapak.

Bagian dalam dari setiap rumah di Desa Sade terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan untuk tidur anak laki-laki dan orang tua.

Sementara bagian kedua lebih tinggi 1 meter yang berisi dapur, lumbung dan tempat tidur anak perempuan. Kemudian bagian terahir yaitu sebuah ruangan kecil yang digunakan untuk tempat melahirkan oleh sang ibu.

Bangunan rumah di desa ini juga terbagi menjadi 3 tipe menurut penggunaannya:

1. Bale Bonter yakni rumah yang dimiliki oleh pejabat desa.
2. Bale Kodong untuk warga yang baru menikah atau orangtua untuk menghabiskan masa tua.
3. Dan Bale Tani yang digunakan sebagai tempat tinggal mereka yang berkeluarga dan memiliki keturunan.

Rata-rata kaum pria Desa Sade adalah petani yang mengandalkan perairan dari musim hujan, di tempat ini tidak ada sistem irigasi sehingga panen hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun.

Hasil panen yang berupa padi dan palawija tersebut disimpan di dalam bangunan kecil  Lumbung Padi Suku Sasak yang di sebut Lumbung Pare dan hanya boleh diambil oleh sang ibu.

3. Atraksi Budaya Lombok

Anda juga dapat melihat atraksi budaya pada waktu tertentu di Desa Sade seperti permainan alat musik tradisional yang dikenal dengan Gendang Beleq, Tarian Cupak Gerantang dan juga Tarian Presean, kesemuanya itu dapat Anda liat dalam video diatas.

4. Belajar Menenun Kain

Kaum perempuan di desa ini melakukan pekerjaan menenun kain, ketrampilan menenun merupakan bagian dari tradisi yang terus diwariskan dan menurut aturan adat bahwa seorang anak gadis yang cukup umur tidak boleh menikah jika belum bisa menenun kain. Salah satu produk kain tenun yang menjadi ciri khas Lombok adalah kain songket.

Anda dapat langsung melihat proses dan belajar bagaimana membuat kain tenun di Desa Sade yang dimulai dari pemintalan kapas kering menjadi benang. Benang yang telah rapi kemudian akan diberikan perwarna yang berasal dari bahan-bahan alami. Pembuatan kain songket sepanjang 2 meter memerlukan waktu pengerjaan antara dua minggu hingga tiga bulan, tergantung pada tingkat kerumitan polanya dan jenisnya.

5. Pakaian

Biasanya pakaian adat daerah hanya digunakan dalam acara-acara tertentu di daerah lain, berbeda dengan penduduk Sade yang selalu mengenakanya setiap hari, walapun tidak semua dari mereka, tapi paling tidak Anda dapat merasakan suasan kehidupan zaman dahulu.

6. Penggunaan Alat

Hal lain yang paling menarik adalah penggunaan perlatan dalam keseharin mereka seperti peralatan pemintalan kapas menjadi benang, alat tenun, alat pertanian dan sebgainya masih menggunakan alat yang jauh dari kata modern.

7. Berintraksi Dengan Penduduk

Berkunjung ke desa ini tidak hanya untuk melihat bentuk bangunan atau menonton tariannya, untuk lebih merasakan pola kehidupan di masa lalu Anda dapat berintraksi dengan masyarakatnya yang ramah, bahkan mereka akan mempersilahkan Anda masuk ke dalam rumahnya dan melihat bagaimana mereka mengatur tata ruang yang memiliki nilai kearifan.

Sejarah Desa Sade

Sejak tahun 1975 desa traditisional ini dikunjungi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun dari mancanegara. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat  telah menetapkan Desa Sade sebagai Desa Wisata pada tahun 1989. Menurut sejarah desa ini telah ada sejak 600 tahun yang lalu dan masyarakat menganut ajaran Watte Telu, namun ajaran itu kini telah ditinggalkan dan semua masyarakatnya memeluk islam.

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *